Akmal Syafril komandan gerakan Indonesia Tanpa JIL
Akmal Syafril komandan gerakan Indonesia Tanpa JIL.
Saya selalu berusaha mengingatkan diri (walau tidak selalu berhasil) untuk tidak bersikap reaktif dengan buru-buru mengomentari suatu permasalahan. Yang sering mengikuti kajian-kajian saya pasti paham bahwa ketimbang menjawab permasalahan 'di permukaan', saya lebih suka mencari akar persoalan dan melakukan analisis dari sana.
Dari perdebatan beberapa waktu ini, mutiara terbaik yang saya dapatkan adalah analogi 'suami-istri' yang diberikan dalam masalah keributan tentang sikap PKS belakangan ini. Perpecahan antara PKS dan umat sudah pasti kontraproduktif, karena PKS adalah bagian dari umat itu sendiri.
Dalam ilmu sejarah, ada satu persoalan pelik, yaitu perihal mengetahui kebenaran. Karena Ilmu Sejarah berusaha mengungkap fakta yang terjadi, maka pertanyaan paling pentingnya adalah: apakah benar temuan kita ini adalah fakta? Masalahnya, seringkali tidak semua data tersaji di hadapan kita. Dengan data-data yang tersedia itulah kita membuat kesimpulan. Adapun yang kita sebut "kesimpulan", dalam penelitian sejarah, kadang-kadang sebenarnya bersifat sementara. Besok-besok, kalau ada data yang baru, maka kesimpulan bisa berubah. Misalnya, dulu semua orang tahu bahwa 7 kata dalam Piagam Jakarta dihapus karena kedatangan dua opsir Jepang kepada Hatta yang menyatakan protes dari Indonesia Timur. Tapi belakangan diketahui bahwa setidaknya satu dari 2 opsir Jepang itu mengaku tidak pernah menemui Hatta, maka kesimpulan sebelumnya kembali dipertanyakan.
Bagaimana dengan persoalan Anies dan PKS sekarang?
Ada perkembangan baru yang perlu dicermati. Setelah ditinggal PKS, Anies dengan segera mendatangi PDIP, kemudian berkomunikasi dengan Partai Ummat. PKS, sebagai pemenang di DKI, telah jauh-jauh hari mendukung Anies, tapi tak pernah dikunjungi. Sebelum Anies dengan sigap mendatangi partai-partai lain, mungkin marah-marah ke PKS masih bisa dibilang wajar. Tapi sekarang, menurut saya, kesimpulan harus berubah. Kalau menurut pembacaan saya, sudah jelas bahwa Anies tidak ingin bersanding dengan PKS, atau — versi husnuzhzhannya — ada pihak-pihak yang mencegah Anies untuk bersanding dengan PKS. Jadi Anies boleh sama siapa saja asal bukan PKS. Dan saya punya data lebih jauh lagi untuk mendukung hipotesa ini, yaitu ketika dulu Sandiaga diangkat jadi Menteri, Anies tetap tidak mau mengangkat kader PKS sebagai wakil gubernur DKI. Padahal sebelum deklarasi Anies-Sandi, yang eksis adalah Anies-Mardani. Di lapangan pun dukungan kader-kader PKS tidak setengah-setengah. Bersanding dengan PKS adalah jawaban paling logis untuk Anies, jika kondisinya ideal. Tapi nyatanya bukan langkah itu yang diambilnya.
Pagi ini, perkembangan hebat terjadi di Tangsel dan Jabar. Di Tangsel, PKS batal mendukung kandidat dari Gerindra dan memilih kandidat yang full kader. Di Jabar, Presiden PKS sendiri dipasangkan dengan Ilham Habibie. Semua bersorak gembira. Saya lihat di medsos beberapa pihak, kader dan non kader, berbangga dan mengatakan alhamdulillaah PKS mau mendengarkan nasihat.
Katakanlah memang benar perubahan ini terjadi karena nasihat dan protes dari netizen. Tapi peristiwa ini justru membuktikan bahwa berjuang bersama jamaah seperti PKS jauh lebih masuk akal ketimbang memperjuangkan figuritas seperti Anies atau siapapun. Saya bilang 'jamaah seperti PKS' untuk membedakan dengan organisasi pada umumnya. Apa bedanya? Bedanya, kader PKS itu banyak di sekeliling antum, aktif bekerja di tengah-tengah (dan untuk) umat, dan mereka bisa diajak bicara. Kalau mau sampaikan keberatan, di sini ada qiyadah PKS sekelas Gatse yang dibully pun nggak marah, apalagi sambil dibeliin mie ayam.
Sekarang Anies merapat ke PDIP, yang literally adalah salah satu penyebab utama kekacauan negara 10 tahun ini, antum mau menasihati Anies lewat jalur mana? Memangnya antum pikir PDIP akan dukung Anies tanpa minta apa-apa? Nanti kalau Anies menang dan di sekitarnya duduk para pejabat dari PDIP, antum kira apa yang akan terjadi pada Jakarta?
Lalu bedanya apa jika yang menang adalah RK? Bedanya, sementara Anies tak mau atau tak bisa bersanding dengan PKS, RK mau. Dengan demikian bisa diharapkan nanti di sekitarnya akan duduk kader-kader PKS yang bisa diharapkan, walaupun sikap kita pada RK masih so-so aja. Kalau tidak bisa duduki posisi tertinggi, masih bisa membantu umat lewat posisi-posisi di bawahnya, seperti Nabi Yusuf as menolong rakyat Mesir di bawah kepemimpinan Raja yang entah apa agamanya.
Saya cukupkan sampai di sini dulu. Masih ada pembicaraan yang lebih berat dan menyakitkan hasil perenungan saya dari pengalaman kali ini, saya simpan dulu dan insya Allah disambung lain kali.
_Tulisan dri Ustadz Dr. Akmal Sjafril di grup kami, Alumni SPI._
_Doktor dari Ilmu Sejarah UI_
Komentar
Posting Komentar