Jangan Berat Ucapkan Maaf di Dunia Politik
Jangan Berat Ucapkan Maaf di Dunia Politik
Kecewa itu letaknya di hati. Tak bisa dipadamkan dengan argumentasi apalagi dengan nada menyudutkan.
Di tulisan sebelumnya saya menyampaikan bahwa seringkali keputusan politik harus dihadapkan pada pilihan yang serba salah. Maka politisi, kader parpol, atau pendukung entitas politik apa pun harus menyiapkan stok permintaan maaf yang banyak.
Saat badai menerpa PKS tahun 2013 lalu banyak kader yang bersikap defensif, bahkan mengangkat narasi "konspirasi". Masyarakat kala itu tengah kecewa. Namun rasa kesal mereka dibenturkan dengan perdebatan.
Gaya komunikasi begitu lantas dikritik oleh beberapa pihak. Harusnya PKS meminta maaf saja dan tak perlu banyak berdebat. Lanjutkan saja kerja-kerja melayani masyarakat seperti biasa.
Kini ketika PKS di persimpangan jalan hendak berbelok ke koalisi, suara-suara kekecewaan kembali menyeruak. Diperpanas dengan hampir batalnya PKS mengusung Anies di pilkada Jakarta.
"Saya menyesal milih PKS. Di 2029 saya pastikan PKS akan kehilangan 8 suara." Kalimat yang senada sedang bertebaran di media sosial. Memang ada beberapa akun yang tertangkap basah, dari jejak digitalnya ia bukan pendukung PKS. Namun di kehidupan nyata tak bisa dipungkiri ada juga simpatisan yang mengancam begitu. Di sekitar saya ada beberapa.
Kalau boleh usul, kader PKS bisa menjawab begini:
"Oh, Bapak pemilih PKS ya? Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak. Mohon maaf ya kalo kali ini kita gak sepemikiran. Perbedaan pendapat itu hal yang biasa. Tapi mudah-mudahan kita bisa lebih banyak sepakat di agenda lain. Insyaallah PKS akan terus berjuang untuk agenda umat dan rakyat di parlemen. Kalo memang gak berkenan lagi memberi suaranya, mohon doanya aja ya. Semoga kita bisa berjuang bersama lagi."
Kalau kepanjangan, silakan diringkas saja. Itu kan cuma usulan.
Tidak bisa dijamin permintaan maaf itu akan menghasilkan suara, setidaknya meminimalisir musuh-musuh baru. Permusuhan orang yang kecewa itu biasanya lebih sadis daripada pihak yang sejak awal sudah berseberangan.
Dan dengan permintaan maaf, kader tidak perlu capek-capek berdebat. Apalagi kalau di dalam hatinya sebenarnya berat menerima keputusan partai, tapi karena loyalitas, dibela juga.
Minta maaf, lanjutkan kerja-kerja sosial, jalin hubungan baik dengan masyarakat, dan jangan lupa genjot kaderisasi. Mau tidak mau sasaran ceruk pemilih harus digeser karena kalangan oposisi militan sudah kecewa.
'Alakullihaal, Allah-lah yang menguasai hati tiap hamba. Fa idza 'azzamta fa tawakkal 'alallah.
Zico Alviandri
Komentar
Posting Komentar