Galau
Takana Kudian 70
-------
GALAU ?
(Emang laen.!)
Oleh: Kamrizal Syafri
***
Galau itu jelas ngak enak, galau, betul-betul ngak nyaman. Tapi galau itu adalah rasa, dan itu tanda orang punya jiwa, karena itu izinkan saya untuk galau.
Saat keinginan tak tercapai, wajar timbul galau. Ketika cinta tak berbalas, pastilah muncul galau. Digantung tak bertali, oleh hubungan tak pasti, pastilah risau. Ditinggal pergi kekasih hati, mestilah galau. Tak direstui nikah, padahal semua sudah ready, siapa yang ngak galau?. Di PHP lalu kemudian dikhianati, siapapun akan galau. Sang idola disakiti? apakah ada yang tidak galau?.
Saya pernah galau, berkali-kali bahkan. Sejak kecil, sampai saat ini. Saya galau, kembali dan lagi-lagi galau. Tapi ini lah hidup!, kadang dunia dirasa tak adil, orang-orang, pada jahat, ada konspirasi, ada kongkalingkong, ada "permainan", dan anggapan anggapan lainnya, berkecamuk di dada dan kepala.
Tapi, saya bisa apa? selain berdamai dengan keadaan, beradaptasi dengan kenyataan, lalu mencoba merenung dan memahami kata kata bijak ini:
" Cinta tak harus memiliki"
" Lai bana nan di hati, indak bisa bakandak hati"
" Sabar, Insya Allah ada ganti yang lebih baik"
"Cinta bukanlah, bahwa dia harus bersama saya, agar saya bahagia, tapi cinta sejati adalah; saya rela ditinggalkannya, asal dia bahagia"
dan obat paling mujarab adalah:
" Ketahuilah bahwa apa yang menjadi jatah mu, tak akan meleset, dan apa yang bukan takdirmu tak akan kau dapat".
" Seandainya semua orang sepakat memberimu manfaat, mereka tak akan mampu, kecuali sebatas apa yang sudah Allah jatahkan untukmu"
" dan sekiranya semua orang berkonspirasi untuk memberimu mudharat, mereka tak akan mampu, kecuali jika Allah sudah mentakdirkan bahwa itu akan menimpamu"
" Tidak akan rugi orang yang istikharah, tidak akan menyesal orang yang musyawarah"
***
Kemudian waktu bejalan, informasi semakin banyak/lengkap, setelah tabayyun/klarifikasi/konfirmasi, lalu kebenaran terungkap, kemudian datang kesadaran, dan pengalaman hidup mengajarkan bahwa:
" Ya Allah sungguh skenario-Mu sangat indah"
" Alhamdulillah, Ya Allah, ini hikmah semua kejadian yang Engkau berikan"
" Ternyata, apa yang saya ketahui, sangat sedikit dibanding apa yang tida sayak ketahui"
Lalu...
Saya jadi malu atas respon reaktif saya dimasa lalu. Saya jadi merasa bersalah atas prasangka negatif saya selama ini. dan Saya jadi tak enak atas diksi dan narasi yang tidak elok yang telah saya muntahkan pada orang yang "tak bersalah" pada pihak yang tidak tepat, padahal dia adalah teman saya, kerabat saya, bahkan orang yang seharusnya saya hormati.
"Lama hidup, jauh berjalan, umur bertambah, kita semakin arif dan semakin bijak dalam menjaga lidah, menahan diri dan menata hati.."
Galau? boleh !!
Mangarasau? Jangan !!
🙏🙏
Komentar
Posting Komentar